Wuussshhhhh...
Dingin bukan main hembusan
angin kencang mengganggu santaiku bersama gitar di taman. Pertanda hujan akan turun, aku
memutuskan untuk memasuki rumah. Angin pun diikuti
gemercik hujan. Tak biasanya suasana malam
seperti ini. Ya! Yang seperti ini, yang membuatku terngiang pada
bayangan tiga bulan yang lalu. Mungkin angin dan hujan yang akan menemani lamunanku kali ini, selain gitar dan kucingku Gio.
Andai mereka bisa
berbicara, mereka pasti mengatakan “Lupakan itu Chel! Lupakan!” gumamku.
Aku lelah dengan cinta yang
direncanakan di dunia ini. Untuk apa cinta di masa remaja jika hanya memberikan
kebahagiaan dengan akhir penderitaan, bukan memberikan kebahagian dengan mengakhiri penderitaan. Aku malah seperti manusia paling
idiot mengharapkan sesuatu yang tanpa sedikit kemungkinan pun akan terkabul.
Tuhan telah memanggil kekasihku yang hina itu, Gilang mengalami kecelakaan
setelah aku memergokinya melakukan hal tidak senono dengan
perempuan jalang. Aku kecewa telah memuja cinta yang dia punya. Aku merasa
tidak dihargai, harga diriku terlempar pada tempat sampah seperti tisu.
Ya, aku tau semua
yang telah Tuhan berikan padaku di muka bumi ini semuanya akan kembali
pada-Nya, tapi apakah
cinta juga? Dan mengapa Tuhan tetap membiarkanku terus-menerus berharap semuanya kembali?
Jelas-jelas itu mustahil terkabul. “Lantas apa makna kalimat nothing impossible? Lupakan itu Chel! Lupakan!” senyum kecilku pada kehampaan, menandakan pemahamanku terhadap adanya rencana Tuhan. Kini malam terasa panjang bagiku. Malam yang
benar-benar membuatku terbuai dalam lamunan.
Pagi sangat cerah, dunia seperti biasa menyambutku
dengan riang, tapi kali ini aku tidak mengabaikannya. Aku tersenyum
sendiri . Ribuan
mata menatapku heran, orang-orang di kampus pasti bertanya-tanya dalam pikiran,
apakah Tuhan telah mengabulkan harapan
Chelsea? Atau apakah Chelsea
menemukan cinta yang baru? Mungkin bisa saja mereka bertanya apakah Chelsea gila? Ahh apalah itu aku tak
peduli.
“Hai Chel beda sekali kau hari
ini, pinjam senyum dari mana kau?”
“Haha dasar kau, kau tak senang
aku meninggalkan raut wajah menderitaku? Sahabat macam apa kau?” kusunggingkan
senyum sinisku.
“Hahaha tak peduli apapun yang
telah membuatmu sembuh dari penderitaan, yang terpenting sekarang kau sadar, syukurlah.”
Senya, perempuan yang anggun,
dia satu-satunya sahabat yang mengerti keadaanku. Sampai sekarang dia selalu
mengajakku berbaur dengan laki-laki di kampus. Ya, supaya aku bisa move
on. Tapi kali ini aku tidak cuek
dengan mereka, sampai aku dekat dengan mereka dan sampai aku sadar terhadap
lelaki tampan di antara mereka, dia Dava.
Dava, lelaki yang baik, ceria,
pintar. Ya jika aku menjadi kekasihnya aku akan mendapatkan kebahagiaan. Tak lama aku pun
dekat dengannya
dan ternyata dia menyukaiku sejak dulu, kini dia menjadi kekasihku. Hariku adalah harinya, dia
selalu membuatku bahagia. Tiba di saat sesuatu yang menghambat hari-harinya bersamaku, aku sudah
tidak merasakan lagi yang namanya bahagia. Aku sudahi hubungan itu.
Tiba-tiba Dion menghampiriku di
kelas. Dia menyodorkan tiket nonton di bioskop.
“Malam ini aku akan menjemputmu
jam tujuh Chel!!!!” Teriak
Dion di luar kelas setelah meninggalkanku, itu yang membuatku malu. Aneh, tak
biasanya dia begitu.
Tepat jam tujuh malam dia
menjemputku. Ketika di perjalanan, di dalam mobil Dion menjawab keherananku.
Ya! Pernyataan cinta. Selama dia bisa membuatku bahagia, mengapa tidak? Dia
lelaki yang sangat romantis. Dia selalu tahu apa yang disukai perempuan termasuk dia tidak pernah membuat
perempuan menunggu. Dion memberikan sebuah alat musik kesukaanku, dia memberiku
gitar tepat di tanggal aku dan Dion mengawali hubungan. Setiap malam Dion
selalu datang ke rumahku membawa coklat dan bunga, dan sekarang, kemana Dion?
Dia lupa atau sibuk? Atau mungkin dia bosan, ahh tak peduli alasannya apa, dia membuat hariku jenuh. Setelah aku
tau, ternyata dia sibuk mengurusi persiapan pindah rumah ke luar kota. Long distance relationship hanya membuat beban saja, mau
bagaimanapun aku sudahi hubungan ini.
Sepertinya Dion membenciku, tapi aku tidak peduli. Setelah
apa yang dilakukan cinta kepadaku, aku bersikap tenang saja dalam hal seperti
ini. Sampai dia
memohon pun aku tak peduli, aku tidak mau lama-lama dengan penderitaan. Sedikit
aku menemukan penderitaan, cepatlah akan ku ubah lagi menjadi kebahagiaan.
Rayhan, lelaki berbau musik
yang kini menjadi vokalis
band, dia dekat dengan banyak perempuan di kampus, dan banyak yang gemar
padanya. Dia memang lelaki tampan, tak disangka dia mendekatiku sampai aku
akrab dengannya. Dan sekarang dia menjadi kekasihku. Dia memang lelaki yang
super sibuk dengan hobinya itu. Walaupun begitu, dia tidak pernah lupa untuk membuatku bahagia ya seperti berburu
pemandangan ke puncak, pantai, ataupun menyaksikan city light. Aku bangga memiliki kekasih seperti dia, ya secara dia
bintang di kampus.
“Chel, kau tak sakit lihat aksi
Rayhan?” Tiba-tiba salah seorang di kampus mengisi kursi kantin di sampingku.
“Maksudmu?” Aku mengerutkan
kening setelah meneguk secangkir moccacino.
“Lihat saja Rayhan begitu asyik
dengan perempuan-perempuan penggemarnya.”
“Ahh biarkan saja Sey, itu sudah menjadi kebiasaan Rayhan, dan aku
sendiri tidak merasa cemburu.”
“Mau sampai kapan kau seperti
ini? Berburu cinta untuk kebahagiaan saja.”
“Harusnya aku yang bertanya,
mau sampai kapan aku seperti ini? Tidak
mendapatkan kebahagiaan yang abadi.” Aku menepuk pundak Senya lalu
meninggalkannya.
Setelah tiga bulan lamanya aku
berhubungan dengan Rayhan, ternyata perpisahan itu terjadi lagi. Kesibukan dia
yang membuatku bosan. Aku tak tahu apa yang orang-orang katakan jika aku
menggonta-ganti kekasih lagi setelah ini. Ternyata cinta belum menebus semua
kesalahannya padaku. Aku terus melakukan hal itu, bahkan aku tidak tahu sudah
berapa lelaki yang kujadikan kekasih.
“Siapa dia?” mataku terpaku
kepada seseorang yang berdiri didepan kelas, sampai aku lupa menutup mulutku
yang terbuka.
“Makhluk apa itu?! Malaikat kah?! Atau pangeran yang turun dari
kayangan kah?!” seseorang yang teriak di
sebelah sana membuat satu kelas tertawa.
“Mohon perhatian semuanya, ini
Radit mahasiswa pindahan yang
akan menduduki salah satu bangku di kelas ini!” Rino memperkenalkan lelaki itu dengan lantang.
“Ohhh.... Raaadiitttt...!!” satu kelas serempak
menanggapinya, terutama kalangan mahasiswi.
Buset!! Dia menempati tempat duduk tepat di
depanku, aku tak mengerti apa aku harus senang atau apa yang pasti ini
membuatku hampir mati. Astaga!
“Punya spidol?”
“Euu ... punya,”
bibirku tiba-tiba bergetar dan kaku.
“Boleh
kupinjam?” dia menyodorkan senyum manisnya yang baru aku lihat seolah-olah dia
mengetahui apa yang aku rasakan.
“Euu .. ini,” damn! Baru beberapa detik saja aku dekat Radit sudah
seperti ini, apalagi untuk setiap hari. Sungguh tampan mahasiswa baru ini.
“Terima kasih”
senyumnya kembali membuatku gugup.
“Hah? Euu ...
iya sama-sama.” Aku kaget bukan main kukira dia tau apa yang aku katakan dalam
hati, ternyata mengembalikan spidol.
Selama kegiatan
belajar mengajar aku tidak konsentrasi dengan apa yang disampaikan dosen, sebab
perasaanku sedang tidak karuan. Radit memang idaman semua orang, dia tampan
melebihi orang tampan, dia pintar melebihi Dava, bahkan suara dia bagus
menandingi Rayhan. Setiap perempuan mengajaknya berbicara, dia kelihatan cuek. Aku tidak tahu apakah dia
romantis melebihi Dion? Tapi mengapa pandangannya begitu tajam ketika melihatku? Ahh mungkin cuma perasaanku saja.
BRAKK!!!
“Euu hey! Sudah berapa lama kau
ada di sini?”
“Sejak tadi kau memikirkanku.”
Radit cengengesan dengan laga percaya dirinya.
“Maksudmu?”
“Hahaha bercanda, boleh aku
duduk disini?”
Aku hanya menjawab dengan
menganggukkan kepala. Aneh, kalau dekat dengan Radit jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku memang mengaguminya
bahkan ingin menjadi kekasihnya, tapi aku takut mencintainya.
Akhir-akhir ini Radit akrab
denganku semenjak tahu bahwa hobiku sama dengan hobinya, yaitu bermain gitar.
Aku selalu meminjam gitarnya kalau di kampus, ya semacam kesempatan dalam kesempitan hehe. Bahkan tanpa aku minta, dia
menemaniku bermain gitar di rumahku. Apa mungkin dia juga menyukaiku? Ahh tidak mungkin, sebab jika dia
menyukaiku pasti seperti mereka yang langsung menyatakan perasaan-perasaannya.
“HEY CHEL!!!” seperti biasa kerjaannya
Radit mengagetkanku.
“Euu.. hah? Sebenarnya hobimu
apa sih? Mengagetkanku?” ucapku ketus.
“Habis hobimu melamun sih haha peace, maen gitar itu pake chord
bukan hanya gonjrang-gonjreng saja, sini gitarnya,” kata Radit sambil mengambil
gitar dari lahunanku.
Ternyata Radit tak secuek yang
aku kira, dia orangnya asyik. Setiap hari dia selalu menjahiliku, aku semakin akrab saja dengannya. Ya sepertinya dia juga
menyukaiku, tapi tak ada tanda-tanda dia akan menjadikanku kekasihnya padahal
sudah lama aku dekat dengannya.
“Mau berburu sunset denganku?”
“Serius?” aku kaget setelah
Radit menawarkan itu.
“Ya serius, ini salah satu
hobiku juga”
“Wah asik dong, boleh-boleh”
Aku bingung harus yakin atau
tidak kalau Radit menyukaiku, tapi kapan dia akan menyatakannya? Kukira ketika
berburu sunset dia akan menyatakan semuanya, tapi ternyata tidak. Aku selalu senang jika bersamanya, dia selalu
mengajakku berburu sunset di pantai dan aku tidak pernah menolaknya, bahkan menyaksikan sunset sambil bermain gitar. Ternyata
dia romantis melebihi Dion. Kini aku sangat yakin dia menyukaiku, sebab aku
berpikiran bahwa dia akan menyatakan cintanya dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan, bisa saja dia menyatakannya bertepatan di hari ulang tahunku. Menyenangkan
bukan?
Hari ke hari aku selalu bersama
Radit, semakin lama aku semakin dekat dengannya. Satu bulan, dua bulan, tiga
bulan, sampai empat bulan ini aku menunggu dia menyatakan sesuatu, yaitu cinta. Sebab aku sangat
yakin dia mencintaiku. Ya, aku sangat
yakin itu.
Tanggal 23 Agustus, hari ini
hari yang kutunggu-tunggu. Acara ulang tahunku, walaupun acara kecil-kecilan tapi dimana kejutan-kejutan akan
datang terutama dari Radit. Semua kado aku buka tepat di acara itu.
Teman-temanku menyaksikan ketika aku membuka kado, pertama aku buka kado dari
orang tuaku, ayah memberiku sepatu dan mamah memberiku pakaian. Kemudian Senya, dia memberiku
tas. Selanjutnya aku buka kado dari Dion, Dava dan Rahyan.
“Mak..sud.. kalian apa ini?”dengan suara
terbata-bata aku tidak kuasa
menahan sakit, sampai air
mataku tidak
sanggup lagi kutampung.
“Itu kado untuk perempuan matre
sepertimu!!!” Dion berkata saat aku menyaksikan isi kado darinya yaitu sepasang
sendal jepit.
Dilanjutkan oleh Rayhan, Rayhan
memberiku seekor katak. “Itu kado untuk perempuan yang tidak punya hati!!!”
“Itu kado untuk perempuan yang
tidak menghargai lelaki dan suka menggonta-ganti kekasih!!!” Dava berkata saat aku menyaksikan
isi kado darinya yaitu sekumpulan sampah plastik.
“Selain itu siapa lagi korban
selanjutnya? Hah?! Radit?” bentak Dion padaku.
PLAKK!
“Jaga mulutmu Dion!!! Cukup
kalian memperlakukanku seperti ini!!! Aku yakin Radit memberiku kejutan yang
baik tidak seperti kalian!” aku marah sambil membuka kado dari Radit.
Sungguh tidak disangka, aku tidak bisa
berkata apa-apa lagi. Aku malu, Radit mengecewakanku, orang-orang
menertawakanku sebab Radit memberiku kotak makan dan kitab Al-Quran. Aku bukan
tidak menghargai itu, tapi bukan ini yang aku harapkan.
“Ini aku kembalikan, sungguh
melebihi pelecehan. Aku tau maksudmu memberiku Al-Quran, karena aku bukan
perempuan baik-baik?! Iya? Atau kau menyukai wanita hobi membaca Al-Quran? Ini
sungguh tidak adil, kau memang pilih-pilih orang.” Semakin sakit hatiku semakin
deras air mataku.
“Bukan itu Chel maksudku, kau
salah paham” Radit menarik tanganku ketika aku hendak meninggalkannya.
Aku meninggalkan kediaman
teman-temanku terutama Radit. Acara ulang tahun terburuk yang pernah aku alami.
Apa penderitaan betah bersamaku? Aku ingin mati saja saat itu.
Beberapa kali Radit menemuiku
dan menghubungiku sampai satu bulan, aku malas menanggapinya. Bahkan dia pernah
mendatangiku ke rumah ketika kedaan hujan yang begitu deras, dia menungguku untuk
menemuinya, tapi aku mengabaikannya. Satu bulan belakangan ini Radit tidak
muncul menemuiku maupun menghubungiku, mungkin dia sudah lelah.
“Sudahlah Chel jangan seperti
ini terus. Minta maaf padanya karena kau tidak menghargainya.”
“Cukup Sey, sejak aku disakiti
cinta, kata maaf adalah sesuatu yang tidak akan pernah aku lakukan.”
“Sebernarnya salah kau juga,
kau tidak tanyakan apa maksud Radit melakukan itu, jangan kau bohongi
perasaanmu sendiri, aku tau kau
menyukainya.”
“Kau tau apa tentang cinta?”
Setelah satu bulan lamanya
Radit tak muncul, aku baru menyadari kesalahanku, kalimat-kalimat yang dilontarkan
Senya memang benar. Lantas apa bedanya aku dan kita, Radit? Sama-sama menyakiti.
Tak berpikir panjang lagi, aku
bergegas menemui Radit. Tak ada kendaraan di rumah selain sepedah, terpaksa aku
menuju rumahnya menggunakan sepedah sebab tak nyaman juga menggunakan kendaraan
umum. Jalan terus ku telusuri, mungkin 15 menit lagi aku sampai di rumahnya.
Tak tau kenapa, debu mengganggu konsenterasiku, aaaaaaaaa.....
BRAKK!
Perlahan kubuka mata,
samar-samar kulihat beberapa orang menggerumutiku. Setelah penglihatanku jelas,
ternyata mereka teman-temanku.
“Apa yang telah tejadi padaku?
Mengapa kalian menangis, aku tidak apa-apa”
“Ya kau memang tidak apa-apa,
kau mengalami kecelakaan, untung saja ada lelaki yang menyelamatkanmu. Tapi... dia telah meninggal.”
suara Senya begitu terbata-bata.
Aku langsung lari menuju ruang
jenazah, dengan cara apa aku harus berhutang budi padanya? Perlahan kubuka kain
yang menutupinya. Ya Tuhann, apa yang telah kau rencanakan?
“RAADIIITTTTTTTTT!!!!.”
Air mataku semakin deras, aku
tak kuasa menahan sakit ini. Radit lelaki yang sedang kucari, dia telah
meninggalkanku yang kutau tak akan mungkin kembali lagi. Aku memeluk erat jasad
Radit, entah mengapa hatiku selalu ingin bersama Radit. Senya memberikanku
amplop yang berisi surat, dia bilang itu surat pemberian dari Radit untukku.
Senya juga memberikanku kado yang dulu Radit berikan kepadaku. Ternyata Radit menyelamatkanku
ketika dia sedang perjalanan pulang dari rumah Senya. Dia yang membuatku takkan
pernah melupakan semua yang telah dia lakukan untukku.
Perlahan kubaca isi surat itu...
Teruntuk : Chelsea Sheilarita Adni
Chelsea, harus dengan cara apa lagi aku
meluluhkan hati nuranimu? Aku tidak butuh sekedar kalimat “Aku memaafkanmu”
dari mulutmu, yang aku butuhkan ketulusanmu memaafkanku. Aku mencintaimu, aku
menyayangimu, aku tidak tahu mengapa perasaan ini muncul ketika pertama kali
aku mengenalmu.
Maaf jika aku membiarkanmu menunggu, sebab aku
takut kau tidak serius denganku. Awalnya aku yakin kesabaranmu menungguku
adalah keseriusanmu, tapi ternyata kau mengarapkan status hubungan saja.
Yakinlah Chel,
cinta lebih indah daripada sekedar status. Jika kau tahu, sebenarnya kado itu
telah menjawab harapanmu. Lihatlah sesuatu yang berada di dalam Al-Quran itu
Chel....
Sebelum aku membaca halaman
selanjutnya, aku mencari sesuatu yang ada di dalam Al-Quran pemberian Radit.
Sebab ketika itu, aku hanya membuka tutup kotak kadonya saja tanpa memegang
apalagi melihat sesuatu yang ada di dalam Al-Quran itu. Setelah aku buka.. Ya
Tuhan, sepasang cincin! Tak tahu harus senang atau sedih yang jelas air mataku
tak henti berlinang.
Dengan suara yang
terbata, kulanjutkan membaca surat..
Maka dari itu janagn kau selalu memandang
sesuatu hanya dari sisi luar saja. Dengan ini aku melamarmu. Maaf saat di ulang
tahunmu itu aku tak mengatakan yang sebenarnya, sebab ku pikir untuk apa aku
melamarmu yang jelas-jelas tidak mencintaiku. Bukan hanya itu, aku mengidap
penyakit leukeumia, aku diponis. Maka dari itu aku langsung melamarmu dan kelak
menikah denganmu sebelum umurku habis, aku ingin merasakan cinta yang
sesungguhnya dan jelas-jelas halal untukku. Tapi takdir berkata lain, kau tidak
mencintaiku. Kotak
makan itu, artinya jika aku menikah denganmu dan umurku masih panjang, kau yang akan
selalu memberiku bekal makanan dikotak makan itu untuk aku kerja. Lalu jika Tuhan berkata lain dan memanggilku,
bawa namaku disetiap doa bersama Al-Quran itu, kan kugapai semua doamu. Suatu
saat nanti jika aku meninggalkanmu, tak perlu kau bersedih. Jika kau mencintai
fisikku kau akan kehilanganku untuk selamanya, maka dari itu cintailah hatiku,
karena hatiku akan terus bersamamu.Temui aku setelah kau mencintaiku Chel..
Salam manis,
Radit Alfaridzi
Tuhannn! Kau telah menjawab harapanku dan aku sendiri yang menghancurkan
semuanya. Hati ini sakit Tuhan, kapan aku akan berhenti menangis? Benar-benar
tidak sanggup
lagi aku menahan
kesedihan ini. Aku memang benar-benar tidak tahu diri, akun telah mencelakai
diriku sendiri.
Sambil menangis, ku ambil tangan Radit untuk memasangkan
cincin ke jari manisku, dan sebaliknya aku memasangkan satu cincin lagi ke jari
manisnya. Apa sesungguhnya rencanamu Tuhan? Mengapa cinta datang untuk pergi?
Radit, kau tega meninggalkanku setelah cintaku datang. Tunggu aku di surga
Radit, aku akan menemuimu ketika aku disana...
Nothing Impossible,
aku temukan makna itu.
-Selesai-
Wuussshhhhh...
Dingin bukan main hembusan
angin kencang mengganggu santaiku bersama gitar di taman. Pertanda hujan akan turun, aku
memutuskan untuk memasuki rumah. Angin pun diikuti
gemercik hujan. Tak biasanya suasana malam
seperti ini. Ya! Yang seperti ini, yang membuatku terngiang pada
bayangan tiga bulan yang lalu. Mungkin angin dan hujan yang akan menemani lamunanku kali ini, selain gitar dan kucingku Gio.
Andai mereka bisa
berbicara, mereka pasti mengatakan “Lupakan itu Chel! Lupakan!” gumamku.
Aku lelah dengan cinta yang
direncanakan di dunia ini. Untuk apa cinta di masa remaja jika hanya memberikan
kebahagiaan dengan akhir penderitaan, bukan memberikan kebahagian dengan mengakhiri penderitaan. Aku malah seperti manusia paling
idiot mengharapkan sesuatu yang tanpa sedikit kemungkinan pun akan terkabul.
Tuhan telah memanggil kekasihku yang hina itu, Gilang mengalami kecelakaan
setelah aku memergokinya melakukan hal tidak senono dengan
perempuan jalang. Aku kecewa telah memuja cinta yang dia punya. Aku merasa
tidak dihargai, harga diriku terlempar pada tempat sampah seperti tisu.
Ya, aku tau semua
yang telah Tuhan berikan padaku di muka bumi ini semuanya akan kembali
pada-Nya, tapi apakah
cinta juga? Dan mengapa Tuhan tetap membiarkanku terus-menerus berharap semuanya kembali?
Jelas-jelas itu mustahil terkabul. “Lantas apa makna kalimat nothing impossible? Lupakan itu Chel! Lupakan!” senyum kecilku pada kehampaan, menandakan pemahamanku terhadap adanya rencana Tuhan. Kini malam terasa panjang bagiku. Malam yang
benar-benar membuatku terbuai dalam lamunan.
Pagi sangat cerah, dunia seperti biasa menyambutku
dengan riang, tapi kali ini aku tidak mengabaikannya. Aku tersenyum
sendiri . Ribuan
mata menatapku heran, orang-orang di kampus pasti bertanya-tanya dalam pikiran,
apakah Tuhan telah mengabulkan harapan
Chelsea? Atau apakah Chelsea
menemukan cinta yang baru? Mungkin bisa saja mereka bertanya apakah Chelsea gila? Ahh apalah itu aku tak
peduli.
“Hai Chel beda sekali kau hari
ini, pinjam senyum dari mana kau?”
“Haha dasar kau, kau tak senang
aku meninggalkan raut wajah menderitaku? Sahabat macam apa kau?” kusunggingkan
senyum sinisku.
“Hahaha tak peduli apapun yang
telah membuatmu sembuh dari penderitaan, yang terpenting sekarang kau sadar, syukurlah.”
Senya, perempuan yang anggun,
dia satu-satunya sahabat yang mengerti keadaanku. Sampai sekarang dia selalu
mengajakku berbaur dengan laki-laki di kampus. Ya, supaya aku bisa move
on. Tapi kali ini aku tidak cuek
dengan mereka, sampai aku dekat dengan mereka dan sampai aku sadar terhadap
lelaki tampan di antara mereka, dia Dava.
Dava, lelaki yang baik, ceria,
pintar. Ya jika aku menjadi kekasihnya aku akan mendapatkan kebahagiaan. Tak lama aku pun
dekat dengannya
dan ternyata dia menyukaiku sejak dulu, kini dia menjadi kekasihku. Hariku adalah harinya, dia
selalu membuatku bahagia. Tiba di saat sesuatu yang menghambat hari-harinya bersamaku, aku sudah
tidak merasakan lagi yang namanya bahagia. Aku sudahi hubungan itu.
Tiba-tiba Dion menghampiriku di
kelas. Dia menyodorkan tiket nonton di bioskop.
“Malam ini aku akan menjemputmu
jam tujuh Chel!!!!” Teriak
Dion di luar kelas setelah meninggalkanku, itu yang membuatku malu. Aneh, tak
biasanya dia begitu.
Tepat jam tujuh malam dia
menjemputku. Ketika di perjalanan, di dalam mobil Dion menjawab keherananku.
Ya! Pernyataan cinta. Selama dia bisa membuatku bahagia, mengapa tidak? Dia
lelaki yang sangat romantis. Dia selalu tahu apa yang disukai perempuan termasuk dia tidak pernah membuat
perempuan menunggu. Dion memberikan sebuah alat musik kesukaanku, dia memberiku
gitar tepat di tanggal aku dan Dion mengawali hubungan. Setiap malam Dion
selalu datang ke rumahku membawa coklat dan bunga, dan sekarang, kemana Dion?
Dia lupa atau sibuk? Atau mungkin dia bosan, ahh tak peduli alasannya apa, dia membuat hariku jenuh. Setelah aku
tau, ternyata dia sibuk mengurusi persiapan pindah rumah ke luar kota. Long distance relationship hanya membuat beban saja, mau
bagaimanapun aku sudahi hubungan ini.
Sepertinya Dion membenciku, tapi aku tidak peduli. Setelah
apa yang dilakukan cinta kepadaku, aku bersikap tenang saja dalam hal seperti
ini. Sampai dia
memohon pun aku tak peduli, aku tidak mau lama-lama dengan penderitaan. Sedikit
aku menemukan penderitaan, cepatlah akan ku ubah lagi menjadi kebahagiaan.
Rayhan, lelaki berbau musik
yang kini menjadi vokalis
band, dia dekat dengan banyak perempuan di kampus, dan banyak yang gemar
padanya. Dia memang lelaki tampan, tak disangka dia mendekatiku sampai aku
akrab dengannya. Dan sekarang dia menjadi kekasihku. Dia memang lelaki yang
super sibuk dengan hobinya itu. Walaupun begitu, dia tidak pernah lupa untuk membuatku bahagia ya seperti berburu
pemandangan ke puncak, pantai, ataupun menyaksikan city light. Aku bangga memiliki kekasih seperti dia, ya secara dia
bintang di kampus.
“Chel, kau tak sakit lihat aksi
Rayhan?” Tiba-tiba salah seorang di kampus mengisi kursi kantin di sampingku.
“Maksudmu?” Aku mengerutkan
kening setelah meneguk secangkir moccacino.
“Lihat saja Rayhan begitu asyik
dengan perempuan-perempuan penggemarnya.”
“Ahh biarkan saja Sey, itu sudah menjadi kebiasaan Rayhan, dan aku
sendiri tidak merasa cemburu.”
“Mau sampai kapan kau seperti
ini? Berburu cinta untuk kebahagiaan saja.”
“Harusnya aku yang bertanya,
mau sampai kapan aku seperti ini? Tidak
mendapatkan kebahagiaan yang abadi.” Aku menepuk pundak Senya lalu
meninggalkannya.
Setelah tiga bulan lamanya aku
berhubungan dengan Rayhan, ternyata perpisahan itu terjadi lagi. Kesibukan dia
yang membuatku bosan. Aku tak tahu apa yang orang-orang katakan jika aku
menggonta-ganti kekasih lagi setelah ini. Ternyata cinta belum menebus semua
kesalahannya padaku. Aku terus melakukan hal itu, bahkan aku tidak tahu sudah
berapa lelaki yang kujadikan kekasih.
“Siapa dia?” mataku terpaku
kepada seseorang yang berdiri didepan kelas, sampai aku lupa menutup mulutku
yang terbuka.
“Makhluk apa itu?! Malaikat kah?! Atau pangeran yang turun dari
kayangan kah?!” seseorang yang teriak di
sebelah sana membuat satu kelas tertawa.
“Mohon perhatian semuanya, ini
Radit mahasiswa pindahan yang
akan menduduki salah satu bangku di kelas ini!” Rino memperkenalkan lelaki itu dengan lantang.
“Ohhh.... Raaadiitttt...!!” satu kelas serempak
menanggapinya, terutama kalangan mahasiswi.
Buset!! Dia menempati tempat duduk tepat di
depanku, aku tak mengerti apa aku harus senang atau apa yang pasti ini
membuatku hampir mati. Astaga!
“Punya spidol?”
“Euu ... punya,”
bibirku tiba-tiba bergetar dan kaku.
“Boleh
kupinjam?” dia menyodorkan senyum manisnya yang baru aku lihat seolah-olah dia
mengetahui apa yang aku rasakan.
“Euu .. ini,” damn! Baru beberapa detik saja aku dekat Radit sudah
seperti ini, apalagi untuk setiap hari. Sungguh tampan mahasiswa baru ini.
“Terima kasih”
senyumnya kembali membuatku gugup.
“Hah? Euu ...
iya sama-sama.” Aku kaget bukan main kukira dia tau apa yang aku katakan dalam
hati, ternyata mengembalikan spidol.
Selama kegiatan
belajar mengajar aku tidak konsentrasi dengan apa yang disampaikan dosen, sebab
perasaanku sedang tidak karuan. Radit memang idaman semua orang, dia tampan
melebihi orang tampan, dia pintar melebihi Dava, bahkan suara dia bagus
menandingi Rayhan. Setiap perempuan mengajaknya berbicara, dia kelihatan cuek. Aku tidak tahu apakah dia
romantis melebihi Dion? Tapi mengapa pandangannya begitu tajam ketika melihatku? Ahh mungkin cuma perasaanku saja.
BRAKK!!!
“Euu hey! Sudah berapa lama kau
ada di sini?”
“Sejak tadi kau memikirkanku.”
Radit cengengesan dengan laga percaya dirinya.
“Maksudmu?”
“Hahaha bercanda, boleh aku
duduk disini?”
Aku hanya menjawab dengan
menganggukkan kepala. Aneh, kalau dekat dengan Radit jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku memang mengaguminya
bahkan ingin menjadi kekasihnya, tapi aku takut mencintainya.
Akhir-akhir ini Radit akrab
denganku semenjak tahu bahwa hobiku sama dengan hobinya, yaitu bermain gitar.
Aku selalu meminjam gitarnya kalau di kampus, ya semacam kesempatan dalam kesempitan hehe. Bahkan tanpa aku minta, dia
menemaniku bermain gitar di rumahku. Apa mungkin dia juga menyukaiku? Ahh tidak mungkin, sebab jika dia
menyukaiku pasti seperti mereka yang langsung menyatakan perasaan-perasaannya.
“HEY CHEL!!!” seperti biasa kerjaannya
Radit mengagetkanku.
“Euu.. hah? Sebenarnya hobimu
apa sih? Mengagetkanku?” ucapku ketus.
“Habis hobimu melamun sih haha peace, maen gitar itu pake chord
bukan hanya gonjrang-gonjreng saja, sini gitarnya,” kata Radit sambil mengambil
gitar dari lahunanku.
Ternyata Radit tak secuek yang
aku kira, dia orangnya asyik. Setiap hari dia selalu menjahiliku, aku semakin akrab saja dengannya. Ya sepertinya dia juga
menyukaiku, tapi tak ada tanda-tanda dia akan menjadikanku kekasihnya padahal
sudah lama aku dekat dengannya.
“Mau berburu sunset denganku?”
“Serius?” aku kaget setelah
Radit menawarkan itu.
“Ya serius, ini salah satu
hobiku juga”
“Wah asik dong, boleh-boleh”
Aku bingung harus yakin atau
tidak kalau Radit menyukaiku, tapi kapan dia akan menyatakannya? Kukira ketika
berburu sunset dia akan menyatakan semuanya, tapi ternyata tidak. Aku selalu senang jika bersamanya, dia selalu
mengajakku berburu sunset di pantai dan aku tidak pernah menolaknya, bahkan menyaksikan sunset sambil bermain gitar. Ternyata
dia romantis melebihi Dion. Kini aku sangat yakin dia menyukaiku, sebab aku
berpikiran bahwa dia akan menyatakan cintanya dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan, bisa saja dia menyatakannya bertepatan di hari ulang tahunku. Menyenangkan
bukan?
Hari ke hari aku selalu bersama
Radit, semakin lama aku semakin dekat dengannya. Satu bulan, dua bulan, tiga
bulan, sampai empat bulan ini aku menunggu dia menyatakan sesuatu, yaitu cinta. Sebab aku sangat
yakin dia mencintaiku. Ya, aku sangat
yakin itu.
Tanggal 23 Agustus, hari ini
hari yang kutunggu-tunggu. Acara ulang tahunku, walaupun acara kecil-kecilan tapi dimana kejutan-kejutan akan
datang terutama dari Radit. Semua kado aku buka tepat di acara itu.
Teman-temanku menyaksikan ketika aku membuka kado, pertama aku buka kado dari
orang tuaku, ayah memberiku sepatu dan mamah memberiku pakaian. Kemudian Senya, dia memberiku
tas. Selanjutnya aku buka kado dari Dion, Dava dan Rahyan.
“Mak..sud.. kalian apa ini?”dengan suara
terbata-bata aku tidak kuasa
menahan sakit, sampai air
mataku tidak
sanggup lagi kutampung.
“Itu kado untuk perempuan matre
sepertimu!!!” Dion berkata saat aku menyaksikan isi kado darinya yaitu sepasang
sendal jepit.
Dilanjutkan oleh Rayhan, Rayhan
memberiku seekor katak. “Itu kado untuk perempuan yang tidak punya hati!!!”
“Itu kado untuk perempuan yang
tidak menghargai lelaki dan suka menggonta-ganti kekasih!!!” Dava berkata saat aku menyaksikan
isi kado darinya yaitu sekumpulan sampah plastik.
“Selain itu siapa lagi korban
selanjutnya? Hah?! Radit?” bentak Dion padaku.
PLAKK!
“Jaga mulutmu Dion!!! Cukup
kalian memperlakukanku seperti ini!!! Aku yakin Radit memberiku kejutan yang
baik tidak seperti kalian!” aku marah sambil membuka kado dari Radit.
Sungguh tidak disangka, aku tidak bisa
berkata apa-apa lagi. Aku malu, Radit mengecewakanku, orang-orang
menertawakanku sebab Radit memberiku kotak makan dan kitab Al-Quran. Aku bukan
tidak menghargai itu, tapi bukan ini yang aku harapkan.
“Ini aku kembalikan, sungguh
melebihi pelecehan. Aku tau maksudmu memberiku Al-Quran, karena aku bukan
perempuan baik-baik?! Iya? Atau kau menyukai wanita hobi membaca Al-Quran? Ini
sungguh tidak adil, kau memang pilih-pilih orang.” Semakin sakit hatiku semakin
deras air mataku.
“Bukan itu Chel maksudku, kau
salah paham” Radit menarik tanganku ketika aku hendak meninggalkannya.
Aku meninggalkan kediaman
teman-temanku terutama Radit. Acara ulang tahun terburuk yang pernah aku alami.
Apa penderitaan betah bersamaku? Aku ingin mati saja saat itu.
Beberapa kali Radit menemuiku
dan menghubungiku sampai satu bulan, aku malas menanggapinya. Bahkan dia pernah
mendatangiku ke rumah ketika kedaan hujan yang begitu deras, dia menungguku untuk
menemuinya, tapi aku mengabaikannya. Satu bulan belakangan ini Radit tidak
muncul menemuiku maupun menghubungiku, mungkin dia sudah lelah.
“Sudahlah Chel jangan seperti
ini terus. Minta maaf padanya karena kau tidak menghargainya.”
“Cukup Sey, sejak aku disakiti
cinta, kata maaf adalah sesuatu yang tidak akan pernah aku lakukan.”
“Sebernarnya salah kau juga,
kau tidak tanyakan apa maksud Radit melakukan itu, jangan kau bohongi
perasaanmu sendiri, aku tau kau
menyukainya.”
“Kau tau apa tentang cinta?”
Setelah satu bulan lamanya
Radit tak muncul, aku baru menyadari kesalahanku, kalimat-kalimat yang dilontarkan
Senya memang benar. Lantas apa bedanya aku dan kita, Radit? Sama-sama menyakiti.
Tak berpikir panjang lagi, aku
bergegas menemui Radit. Tak ada kendaraan di rumah selain sepedah, terpaksa aku
menuju rumahnya menggunakan sepedah sebab tak nyaman juga menggunakan kendaraan
umum. Jalan terus ku telusuri, mungkin 15 menit lagi aku sampai di rumahnya.
Tak tau kenapa, debu mengganggu konsenterasiku, aaaaaaaaa.....
BRAKK!
Perlahan kubuka mata,
samar-samar kulihat beberapa orang menggerumutiku. Setelah penglihatanku jelas,
ternyata mereka teman-temanku.
“Apa yang telah tejadi padaku?
Mengapa kalian menangis, aku tidak apa-apa”
“Ya kau memang tidak apa-apa,
kau mengalami kecelakaan, untung saja ada lelaki yang menyelamatkanmu. Tapi... dia telah meninggal.”
suara Senya begitu terbata-bata.
Aku langsung lari menuju ruang
jenazah, dengan cara apa aku harus berhutang budi padanya? Perlahan kubuka kain
yang menutupinya. Ya Tuhann, apa yang telah kau rencanakan?
“RAADIIITTTTTTTTT!!!!.”
Air mataku semakin deras, aku
tak kuasa menahan sakit ini. Radit lelaki yang sedang kucari, dia telah
meninggalkanku yang kutau tak akan mungkin kembali lagi. Aku memeluk erat jasad
Radit, entah mengapa hatiku selalu ingin bersama Radit. Senya memberikanku
amplop yang berisi surat, dia bilang itu surat pemberian dari Radit untukku.
Senya juga memberikanku kado yang dulu Radit berikan kepadaku. Ternyata Radit menyelamatkanku
ketika dia sedang perjalanan pulang dari rumah Senya. Dia yang membuatku takkan
pernah melupakan semua yang telah dia lakukan untukku.
Perlahan kubaca isi surat itu...
Teruntuk : Chelsea Sheilarita Adni
Chelsea, harus dengan cara apa lagi aku
meluluhkan hati nuranimu? Aku tidak butuh sekedar kalimat “Aku memaafkanmu”
dari mulutmu, yang aku butuhkan ketulusanmu memaafkanku. Aku mencintaimu, aku
menyayangimu, aku tidak tahu mengapa perasaan ini muncul ketika pertama kali
aku mengenalmu.
Maaf jika aku membiarkanmu menunggu, sebab aku
takut kau tidak serius denganku. Awalnya aku yakin kesabaranmu menungguku
adalah keseriusanmu, tapi ternyata kau mengarapkan status hubungan saja.
Yakinlah Chel,
cinta lebih indah daripada sekedar status. Jika kau tahu, sebenarnya kado itu
telah menjawab harapanmu. Lihatlah sesuatu yang berada di dalam Al-Quran itu
Chel....
Sebelum aku membaca halaman
selanjutnya, aku mencari sesuatu yang ada di dalam Al-Quran pemberian Radit.
Sebab ketika itu, aku hanya membuka tutup kotak kadonya saja tanpa memegang
apalagi melihat sesuatu yang ada di dalam Al-Quran itu. Setelah aku buka.. Ya
Tuhan, sepasang cincin! Tak tahu harus senang atau sedih yang jelas air mataku
tak henti berlinang.
Dengan suara yang
terbata, kulanjutkan membaca surat..
Maka dari itu janagn kau selalu memandang
sesuatu hanya dari sisi luar saja. Dengan ini aku melamarmu. Maaf saat di ulang
tahunmu itu aku tak mengatakan yang sebenarnya, sebab ku pikir untuk apa aku
melamarmu yang jelas-jelas tidak mencintaiku. Bukan hanya itu, aku mengidap
penyakit leukeumia, aku diponis. Maka dari itu aku langsung melamarmu dan kelak
menikah denganmu sebelum umurku habis, aku ingin merasakan cinta yang
sesungguhnya dan jelas-jelas halal untukku. Tapi takdir berkata lain, kau tidak
mencintaiku. Kotak
makan itu, artinya jika aku menikah denganmu dan umurku masih panjang, kau yang akan
selalu memberiku bekal makanan dikotak makan itu untuk aku kerja. Lalu jika Tuhan berkata lain dan memanggilku,
bawa namaku disetiap doa bersama Al-Quran itu, kan kugapai semua doamu. Suatu
saat nanti jika aku meninggalkanmu, tak perlu kau bersedih. Jika kau mencintai
fisikku kau akan kehilanganku untuk selamanya, maka dari itu cintailah hatiku,
karena hatiku akan terus bersamamu.Temui aku setelah kau mencintaiku Chel..
Salam manis,
Radit Alfaridzi
Tuhannn! Kau telah menjawab harapanku dan aku sendiri yang menghancurkan
semuanya. Hati ini sakit Tuhan, kapan aku akan berhenti menangis? Benar-benar
tidak sanggup
lagi aku menahan
kesedihan ini. Aku memang benar-benar tidak tahu diri, akun telah mencelakai
diriku sendiri.
Sambil menangis, ku ambil tangan Radit untuk memasangkan
cincin ke jari manisku, dan sebaliknya aku memasangkan satu cincin lagi ke jari
manisnya. Apa sesungguhnya rencanamu Tuhan? Mengapa cinta datang untuk pergi?
Radit, kau tega meninggalkanku setelah cintaku datang. Tunggu aku di surga
Radit, aku akan menemuimu ketika aku disana...
Nothing Impossible,
aku temukan makna itu.
-Selesai-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar