Minggu, 15 Oktober 2017

Datang Untuk Pergi

Wuussshhhhh...
Dingin bukan main hembusan angin kencang mengganggu santaiku bersama gitar di taman. Pertanda hujan akan turun, aku memutuskan untuk memasuki rumah. Angin pun diikuti gemercik hujan. Tak biasanya suasana malam seperti ini. Ya! Yang seperti ini, yang membuatku terngiang pada bayangan tiga bulan yang lalu. Mungkin angin dan hujan yang akan menemani lamunanku kali ini, selain gitar dan kucingku Gio. Andai mereka bisa berbicara, mereka pasti mengatakan “Lupakan itu Chel! Lupakan!” gumamku.
Aku lelah dengan cinta yang direncanakan di dunia ini. Untuk apa cinta di masa remaja jika hanya memberikan kebahagiaan dengan akhir penderitaan, bukan memberikan kebahagian dengan mengakhiri penderitaan. Aku malah seperti manusia paling idiot mengharapkan sesuatu yang tanpa sedikit kemungkinan pun akan terkabul. Tuhan telah memanggil kekasihku yang hina itu, Gilang mengalami kecelakaan setelah aku memergokinya melakukan hal tidak senono dengan perempuan jalang. Aku kecewa telah memuja cinta yang dia punya. Aku merasa tidak dihargai, harga diriku terlempar pada tempat sampah seperti tisu.
Ya, aku tau semua yang telah Tuhan berikan padaku di muka bumi ini semuanya akan kembali pada-Nya, tapi apakah cinta juga? Dan mengapa Tuhan tetap membiarkanku terus-menerus berharap semuanya kembali? Jelas-jelas itu mustahil terkabul. “Lantas apa makna kalimat nothing impossible? Lupakan itu Chel! Lupakan!” senyum kecilku pada kehampaan, menandakan pemahamanku terhadap adanya rencana Tuhan. Kini malam terasa panjang bagiku. Malam yang benar-benar membuatku terbuai dalam lamunan.

Pagi  sangat cerah, dunia seperti biasa menyambutku dengan riang, tapi kali ini aku tidak mengabaikannya.  Aku tersenyum sendiri . Ribuan mata menatapku heran, orang-orang di kampus pasti bertanya-tanya dalam pikiran, apakah Tuhan telah mengabulkan harapan Chelsea? Atau apakah Chelsea menemukan cinta yang baru? Mungkin bisa saja mereka bertanya apakah Chelsea gila? Ahh apalah itu aku tak peduli.
“Hai Chel beda sekali kau hari ini, pinjam senyum dari mana kau?”
“Haha dasar kau, kau tak senang aku meninggalkan raut wajah menderitaku? Sahabat macam apa kau?” kusunggingkan senyum sinisku.
“Hahaha tak peduli apapun yang telah membuatmu sembuh dari penderitaan, yang terpenting sekarang kau sadar, syukurlah.”
Senya, perempuan yang anggun, dia satu-satunya sahabat yang mengerti keadaanku. Sampai sekarang dia selalu mengajakku berbaur dengan laki-laki di kampus. Ya, supaya aku bisa move on. Tapi kali ini aku tidak cuek dengan mereka, sampai aku dekat dengan mereka dan sampai aku sadar terhadap lelaki tampan di antara mereka, dia Dava.
Dava, lelaki yang baik, ceria, pintar. Ya jika aku menjadi kekasihnya aku akan mendapatkan kebahagiaan. Tak lama aku pun dekat dengannya dan ternyata dia menyukaiku sejak dulu, kini dia menjadi kekasihku. Hariku adalah harinya, dia selalu membuatku bahagia. Tiba di saat sesuatu yang menghambat hari-harinya bersamaku, aku sudah tidak merasakan lagi yang namanya bahagia. Aku sudahi hubungan itu.
Tiba-tiba Dion menghampiriku di kelas. Dia menyodorkan tiket nonton di bioskop.
“Malam ini aku akan menjemputmu jam tujuh Chel!!!!” Teriak Dion di luar kelas setelah meninggalkanku, itu yang membuatku malu. Aneh, tak biasanya dia begitu.
Tepat jam tujuh malam dia menjemputku. Ketika di perjalanan, di dalam mobil Dion menjawab keherananku. Ya! Pernyataan cinta. Selama dia bisa membuatku bahagia, mengapa tidak? Dia lelaki yang sangat romantis. Dia selalu tahu apa yang disukai perempuan termasuk dia tidak pernah membuat perempuan menunggu. Dion memberikan sebuah alat musik kesukaanku, dia memberiku gitar tepat di tanggal aku dan Dion mengawali hubungan. Setiap malam Dion selalu datang ke rumahku membawa coklat dan bunga, dan sekarang, kemana Dion? Dia lupa atau sibuk? Atau mungkin dia bosan, ahh tak peduli alasannya apa, dia membuat hariku jenuh. Setelah aku tau, ternyata dia sibuk mengurusi persiapan pindah rumah ke luar kota. Long distance relationship hanya membuat beban saja, mau bagaimanapun  aku sudahi hubungan ini.
Sepertinya Dion membenciku, tapi aku tidak peduli. Setelah apa yang dilakukan cinta kepadaku, aku bersikap tenang saja dalam hal seperti ini. Sampai dia memohon pun aku tak peduli, aku tidak mau lama-lama dengan penderitaan. Sedikit aku menemukan penderitaan, cepatlah akan ku ubah lagi menjadi kebahagiaan.
Rayhan, lelaki berbau musik yang kini menjadi vokalis band, dia dekat dengan banyak perempuan di kampus, dan banyak yang gemar padanya. Dia memang lelaki tampan, tak disangka dia mendekatiku sampai aku akrab dengannya. Dan sekarang dia menjadi kekasihku. Dia memang lelaki yang super sibuk dengan hobinya itu. Walaupun begitu, dia tidak pernah lupa untuk membuatku bahagia ya seperti berburu pemandangan ke puncak, pantai, ataupun menyaksikan city light. Aku bangga memiliki kekasih seperti dia, ya secara dia bintang di kampus.
“Chel, kau tak sakit lihat aksi Rayhan?” Tiba-tiba salah seorang di kampus mengisi kursi kantin di sampingku.
“Maksudmu?” Aku mengerutkan kening setelah meneguk secangkir moccacino.
“Lihat saja Rayhan begitu asyik dengan perempuan-perempuan penggemarnya.”
Ahh biarkan saja Sey, itu sudah menjadi kebiasaan Rayhan, dan aku sendiri tidak merasa cemburu.”
“Mau sampai kapan kau seperti ini? Berburu cinta untuk kebahagiaan saja.”
“Harusnya aku yang bertanya, mau sampai kapan  aku seperti ini? Tidak mendapatkan kebahagiaan yang abadi.” Aku menepuk pundak Senya lalu meninggalkannya.



 

Setelah tiga bulan lamanya aku berhubungan dengan Rayhan, ternyata perpisahan itu terjadi lagi. Kesibukan dia yang membuatku bosan. Aku tak tahu apa yang orang-orang katakan jika aku menggonta-ganti kekasih lagi setelah ini. Ternyata cinta belum menebus semua kesalahannya padaku. Aku terus melakukan hal itu, bahkan aku tidak tahu sudah berapa lelaki yang kujadikan kekasih.
“Siapa dia?” mataku terpaku kepada seseorang yang berdiri didepan kelas, sampai aku lupa menutup mulutku yang terbuka.
“Makhluk apa itu?! Malaikat kah?! Atau pangeran yang turun dari kayangan kah?!” seseorang yang teriak di sebelah sana membuat satu kelas tertawa.
“Mohon perhatian semuanya, ini Radit mahasiswa pindahan yang akan menduduki salah satu bangku di kelas ini!” Rino memperkenalkan lelaki itu dengan lantang.
“Ohhh.... Raaadiitttt...!!” satu kelas serempak menanggapinya, terutama kalangan mahasiswi.
Buset!! Dia menempati tempat duduk tepat di depanku, aku tak mengerti apa aku harus senang atau apa yang pasti ini membuatku hampir mati. Astaga!
“Punya spidol?”
“Euu ... punya,” bibirku tiba-tiba bergetar dan kaku.
“Boleh kupinjam?” dia menyodorkan senyum manisnya yang baru aku lihat seolah-olah dia mengetahui apa yang aku rasakan.
“Euu .. ini,” damn! Baru beberapa detik saja aku dekat Radit sudah seperti ini, apalagi untuk setiap hari. Sungguh tampan mahasiswa baru ini.
“Terima kasih” senyumnya kembali membuatku gugup.
“Hah? Euu ... iya sama-sama.” Aku kaget bukan main kukira dia tau apa yang aku katakan dalam hati, ternyata mengembalikan spidol.
Selama kegiatan belajar mengajar aku tidak konsentrasi dengan apa yang disampaikan dosen, sebab perasaanku sedang tidak karuan. Radit memang idaman semua orang, dia tampan melebihi orang tampan, dia pintar melebihi Dava, bahkan suara dia bagus menandingi Rayhan. Setiap perempuan mengajaknya berbicara, dia kelihatan cuek. Aku tidak tahu apakah dia romantis melebihi Dion?  Tapi mengapa pandangannya begitu tajam ketika melihatku? Ahh mungkin cuma perasaanku saja.
BRAKK!!!
“Euu hey! Sudah berapa lama kau ada di sini?”
“Sejak tadi kau memikirkanku.” Radit cengengesan dengan laga percaya dirinya.
“Maksudmu?”
“Hahaha bercanda, boleh aku duduk disini?”
Aku hanya menjawab dengan menganggukkan kepala. Aneh, kalau dekat dengan Radit jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku memang mengaguminya bahkan ingin menjadi kekasihnya, tapi aku takut mencintainya.
Akhir-akhir ini Radit akrab denganku semenjak tahu bahwa hobiku sama dengan hobinya, yaitu bermain gitar. Aku selalu meminjam gitarnya kalau di kampus, ya semacam kesempatan dalam kesempitan hehe. Bahkan tanpa aku minta, dia menemaniku bermain gitar di rumahku. Apa mungkin dia juga menyukaiku? Ahh tidak mungkin, sebab jika dia menyukaiku pasti seperti mereka yang langsung menyatakan perasaan-perasaannya.
“HEY CHEL!!!” seperti biasa kerjaannya Radit mengagetkanku.
“Euu.. hah? Sebenarnya hobimu apa sih? Mengagetkanku?” ucapku ketus.
“Habis hobimu melamun sih haha peace, maen gitar itu pake chord bukan hanya gonjrang-gonjreng saja, sini gitarnya,” kata Radit sambil mengambil gitar dari lahunanku.
Ternyata Radit tak secuek yang aku kira, dia orangnya asyik. Setiap hari dia selalu menjahiliku, aku semakin akrab saja dengannya. Ya sepertinya dia juga menyukaiku, tapi tak ada tanda-tanda dia akan menjadikanku kekasihnya padahal sudah lama aku dekat dengannya.
“Mau berburu sunset denganku?”
“Serius?” aku kaget setelah Radit menawarkan itu.
“Ya serius, ini salah satu hobiku juga”
“Wah asik dong, boleh-boleh”
Aku bingung harus yakin atau tidak kalau Radit menyukaiku, tapi kapan dia akan menyatakannya? Kukira ketika berburu sunset dia akan menyatakan semuanya, tapi ternyata tidak. Aku selalu senang jika bersamanya, dia selalu mengajakku berburu sunset di pantai dan aku tidak pernah menolaknya, bahkan menyaksikan sunset sambil bermain gitar. Ternyata dia romantis melebihi Dion. Kini aku sangat yakin dia menyukaiku, sebab aku berpikiran bahwa dia akan menyatakan cintanya dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan, bisa saja dia menyatakannya bertepatan di hari ulang tahunku. Menyenangkan bukan?
Hari ke hari aku selalu bersama Radit, semakin lama aku semakin dekat dengannya. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, sampai empat bulan ini aku menunggu dia menyatakan sesuatu, yaitu cinta. Sebab aku sangat yakin dia mencintaiku.  Ya, aku sangat yakin itu.
Tanggal 23 Agustus, hari ini hari yang kutunggu-tunggu. Acara ulang tahunku, walaupun acara kecil-kecilan tapi dimana kejutan-kejutan akan datang terutama dari Radit. Semua kado aku buka tepat di acara itu. Teman-temanku menyaksikan ketika aku membuka kado, pertama aku buka kado dari orang tuaku, ayah memberiku sepatu dan mamah memberiku pakaian. Kemudian Senya, dia memberiku tas. Selanjutnya aku buka kado dari Dion, Dava dan Rahyan.
“Mak..sud.. kalian apa ini?”dengan suara terbata-bata aku tidak kuasa menahan sakit, sampai air mataku tidak sanggup lagi kutampung.
“Itu kado untuk perempuan matre sepertimu!!!” Dion berkata saat aku menyaksikan isi kado darinya yaitu sepasang sendal jepit.
Dilanjutkan oleh Rayhan, Rayhan memberiku seekor katak. “Itu kado untuk perempuan yang tidak punya hati!!!”
“Itu kado untuk perempuan yang tidak menghargai lelaki dan suka menggonta-ganti kekasih!!!” Dava berkata saat aku menyaksikan isi kado darinya yaitu sekumpulan sampah plastik.
“Selain itu siapa lagi korban selanjutnya? Hah?! Radit?” bentak Dion padaku.
PLAKK!
“Jaga mulutmu Dion!!! Cukup kalian memperlakukanku seperti ini!!! Aku yakin Radit memberiku kejutan yang baik tidak seperti kalian!” aku marah sambil membuka kado dari Radit.
Sungguh tidak disangka, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku malu, Radit mengecewakanku, orang-orang menertawakanku sebab Radit memberiku kotak makan dan kitab Al-Quran. Aku bukan tidak menghargai itu, tapi bukan ini yang aku harapkan.
“Ini aku kembalikan, sungguh melebihi pelecehan. Aku tau maksudmu memberiku Al-Quran, karena aku bukan perempuan baik-baik?! Iya? Atau kau menyukai wanita hobi membaca Al-Quran? Ini sungguh tidak adil, kau memang pilih-pilih orang.” Semakin sakit hatiku semakin deras air mataku.
“Bukan itu Chel maksudku, kau salah paham” Radit menarik tanganku ketika aku hendak meninggalkannya.
Aku meninggalkan kediaman teman-temanku terutama Radit. Acara ulang tahun terburuk yang pernah aku alami. Apa penderitaan betah bersamaku? Aku ingin mati saja saat itu.
Beberapa kali Radit menemuiku dan menghubungiku sampai satu bulan, aku malas menanggapinya. Bahkan dia pernah mendatangiku ke rumah ketika kedaan hujan yang begitu deras, dia menungguku untuk menemuinya, tapi aku mengabaikannya. Satu bulan belakangan ini Radit tidak muncul menemuiku maupun menghubungiku, mungkin dia sudah lelah.
“Sudahlah Chel jangan seperti ini terus. Minta maaf padanya karena kau tidak menghargainya.”
“Cukup Sey, sejak aku disakiti cinta, kata maaf adalah sesuatu yang tidak akan pernah aku lakukan.”
“Sebernarnya salah kau juga, kau tidak tanyakan apa maksud Radit melakukan itu, jangan kau bohongi perasaanmu sendiri, aku tau kau menyukainya.”
“Kau tau apa tentang cinta?”
Setelah satu bulan lamanya Radit tak muncul, aku baru menyadari kesalahanku, kalimat-kalimat yang dilontarkan Senya memang benar. Lantas apa bedanya aku dan kita, Radit? Sama-sama menyakiti.
Tak berpikir panjang lagi, aku bergegas menemui Radit. Tak ada kendaraan di rumah selain sepedah, terpaksa aku menuju rumahnya menggunakan sepedah sebab tak nyaman juga menggunakan kendaraan umum. Jalan terus ku telusuri, mungkin 15 menit lagi aku sampai di rumahnya. Tak tau kenapa, debu mengganggu konsenterasiku, aaaaaaaaa.....
BRAKK!



 



Perlahan kubuka mata, samar-samar kulihat beberapa orang menggerumutiku. Setelah penglihatanku jelas, ternyata mereka teman-temanku.
“Apa yang telah tejadi padaku? Mengapa kalian menangis, aku tidak apa-apa”
“Ya kau memang tidak apa-apa, kau mengalami kecelakaan, untung saja ada lelaki yang menyelamatkanmu. Tapi... dia telah meninggal.” suara Senya begitu terbata-bata.
Aku langsung lari menuju ruang jenazah, dengan cara apa aku harus berhutang budi padanya? Perlahan kubuka kain yang menutupinya. Ya Tuhann, apa yang telah kau rencanakan?
“RAADIIITTTTTTTTT!!!!.”
Air mataku semakin deras, aku tak kuasa menahan sakit ini. Radit lelaki yang sedang kucari, dia telah meninggalkanku yang kutau tak akan mungkin kembali lagi. Aku memeluk erat jasad Radit, entah mengapa hatiku selalu ingin bersama Radit. Senya memberikanku amplop yang berisi surat, dia bilang itu surat pemberian dari Radit untukku. Senya juga memberikanku kado yang dulu Radit berikan kepadaku. Ternyata Radit menyelamatkanku ketika dia sedang perjalanan pulang dari rumah Senya. Dia yang membuatku takkan pernah melupakan semua yang telah dia lakukan untukku.
 Perlahan kubaca isi surat itu...
Teruntuk : Chelsea Sheilarita Adni

Chelsea, harus dengan cara apa lagi aku meluluhkan hati nuranimu? Aku tidak butuh sekedar kalimat “Aku memaafkanmu” dari mulutmu, yang aku butuhkan ketulusanmu memaafkanku. Aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku tidak tahu mengapa perasaan ini muncul ketika pertama kali aku mengenalmu.
Maaf jika aku membiarkanmu menunggu, sebab aku takut kau tidak serius denganku. Awalnya aku yakin kesabaranmu menungguku adalah keseriusanmu, tapi ternyata kau mengarapkan status hubungan saja. Yakinlah Chel, cinta lebih indah daripada sekedar status. Jika kau tahu, sebenarnya kado itu telah menjawab harapanmu. Lihatlah sesuatu yang berada di dalam Al-Quran itu Chel....
           Sebelum aku membaca halaman selanjutnya, aku mencari sesuatu yang ada di dalam Al-Quran pemberian Radit. Sebab ketika itu, aku hanya membuka tutup kotak kadonya saja tanpa memegang apalagi melihat sesuatu yang ada di dalam Al-Quran itu. Setelah aku buka.. Ya Tuhan, sepasang cincin! Tak tahu harus senang atau sedih yang jelas air mataku tak henti berlinang.
Dengan suara yang terbata, kulanjutkan membaca surat..
Maka dari itu janagn kau selalu memandang sesuatu hanya dari sisi luar saja. Dengan ini aku melamarmu. Maaf saat di ulang tahunmu itu aku tak mengatakan yang sebenarnya, sebab ku pikir untuk apa aku melamarmu yang jelas-jelas tidak mencintaiku. Bukan hanya itu, aku mengidap penyakit leukeumia, aku diponis. Maka dari itu aku langsung melamarmu dan kelak menikah denganmu sebelum umurku habis, aku ingin merasakan cinta yang sesungguhnya dan jelas-jelas halal untukku. Tapi takdir berkata lain, kau tidak mencintaiku. Kotak makan itu,  artinya jika aku menikah denganmu dan umurku masih panjang, kau yang akan selalu memberiku bekal makanan dikotak makan itu untuk aku kerja. Lalu jika Tuhan berkata lain dan memanggilku, bawa namaku disetiap doa bersama Al-Quran itu, kan kugapai semua doamu. Suatu saat nanti jika aku meninggalkanmu, tak perlu kau bersedih. Jika kau mencintai fisikku kau akan kehilanganku untuk selamanya, maka dari itu cintailah hatiku, karena hatiku akan terus bersamamu.Temui aku setelah kau mencintaiku Chel..
Salam manis,
Radit Alfaridzi

Tuhannn! Kau telah menjawab harapanku dan aku sendiri yang menghancurkan semuanya. Hati ini sakit Tuhan, kapan aku akan berhenti menangis? Benar-benar tidak sanggup lagi aku menahan kesedihan ini. Aku memang benar-benar tidak tahu diri, akun telah mencelakai diriku sendiri.
Sambil menangis, ku ambil tangan Radit untuk memasangkan cincin ke jari manisku, dan sebaliknya aku memasangkan satu cincin lagi ke jari manisnya. Apa sesungguhnya rencanamu Tuhan? Mengapa cinta datang untuk pergi? Radit, kau tega meninggalkanku setelah cintaku datang. Tunggu aku di surga Radit, aku akan menemuimu ketika aku disana...
Nothing Impossible, aku temukan makna itu.


-Selesai-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Self-Image (Citra Diri)

Citra diri merupakan salah satu unsur penting untuk menunjukan siapa diri kita sebenarnya. Ia juga merupakan konsep diri tentang individu (...