Minggu, 22 Oktober 2017

Self-Image (Citra Diri)

Citra diri merupakan salah satu unsur penting untuk menunjukan siapa diri kita sebenarnya. Ia juga merupakan konsep diri tentang individu (Maxwell Maltz dalam Ranjit SinghMalhi,2005, Enhancing Personal Quality). Citra diri seseorang terbentuk dari perjalanan pengalaman masa lalu, keberhasilan dan kegagalan, pengetahuan yang dimilikinya, dan bagaimana orang lain telah menilainya secara obyektif. Kita sering melihat diri kita seperti orang lain melihat kita.

Menurut Mahali (2005),riset menunjukan bahwa kepribadian kita merupakan manifestasi sisi luar dari citra diri kita. Semua kegiatan dan perasaan selalu taatasas dengan hal itu. Ia semacam pilot dan sistem bimbingan otomatis yang mengendalikan dan memprogramkan kita apakah akan berhasil atau gagal mencapai tujuan tertentu. Citra diri sangat dipengaruhi oleh performa kita sendiri. Sementara citra diri memengaruhi perilaku dan perilaku memengaruhi performa. Citra diri dapat membatasi prestasi kita; apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan. Dengan kata lain kita dibatasi hanya oleh keterbatasan citra diri.


Citra diri positif seseorang membuat dirinya berharga di mata orang lain. Contohnya antara lain citra tentang kejujuran, ketegasan, wibawa, dan sikap tanpa kompromi dengan ketidakadilan. Orang yang memiliki citra diri sepertiitu relatif mudah untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Simpati orang lain selalu tertuju padanya. Akibat lanjutannya citra diri memacu antusias hidup yang bersangkutan.

Sementara itu banyak dari kita yang gagal mencapai keberhasilan hidup yang lebih baik karena lemahnya (negatif) citra diri kita. Jadi bukannya karena faktor kurangnya kemampuan dan bakat. Citra diri yang lemah akan berakibat lanjut pada harga diri yang lemah. Mereka yang tergolong seperti ini selalu merasa dirinya tidak bernilai dalam mengarungi kehidupan. Motivasi dan semangat hidupnya pun rendah.Selalu dikungkung perasaan gagal. Mereka merasa menjadi korban masa lalu yang tidak sukses. Dan tidak jarang orang lain bakal menegurnya, ”mengapa anda selalu merasa canggung berhadapan dengan orang lain”?

Untuk mengembalikan citra diri yang rendah, yang pertama sebaiknya kita rajin mengevaluasi diri. Pahamilah unsur-unsur penting yang membentuk diri kita sebenarnya. Apa kekuatan dan kelemahan diri kita? Seberapa jauh kita meyakini diri kita sendiri. Kemudian ”lawanlah” setiap citra diri kita yang lemah.Kurangilah aspek-aspek yang menyebabkan citra diri kita lemah dengan cara memahami mana perilaku baik dan mana yang buruk. Ubahlah citra diri lemah menjadi citra yang kuat lewat upaya berpikir sukses ketimbang berpikir gagal. Dengan kata lain jangan rendah diri. Tidak ada salahnya kita membuat daftar pemikiran negatif dan positif yang ditulis dalam kartu.Lalu secara periodik tengok dan renungkanlah makna setiap isi daftar tersebut dari perspektif yang baru. Tentunya untuk membangun citra diri dalam kehidupan nyata. Pada gilirannya jadikanlah diri kita sebagai sahabat terbaik bagi semua orang.
Pietrofesa dalam tulisannya menjelaskan bahwa citra diri atau self image meliputi semua nilai, sikap, dan keyakinan terhadap diri seseorang dalam hubungannya dengan lingkungan, dan merupakan perpaduan dari sejumlah persepsi diri yang mempengaruhi dan bahkan menentukan persepsi dan tingkah laku seseorang.

Para ahli sepakat bahwa citra diri (self image) itu berhubungan dengan pandangan seseorang terhadap diri baik tentang fisik maupun psikisnya. Pandangan terhadap diri ini adalah unik sifatnya. Dengan kata lain ada kekhasan dari orang ke orang dalam citra dirinya secara fisik dan citra dirinya secara psikologis dan juga tidak lepas dari pandangan lingkungan terhadap diri seseorang.

Kriteria-kriteria Citra Diri

Berikut ini dijelaskan tiga criteria dalam citra diri

Kriteria pertama, citra diri dapat dilihat dari diri sendiri. Hal ini dapat diwujudkan dalam pernyataan-pernyataan berikut.

“ Saya sangat baik hati”

“Saya sangat bersahabat”

“Saya pemalu” dll.

Tentu saja perasaan dan keyakinan seperti itu mempunyai dampak besar terhadap apa yang diperbuat seseorang. Seseorang yang under Achieved (hasil belajar rendah disbanding kemampuan) disekolah atau orang yang tidak cermat memilih karier akan mendorong diri sangat tidak akurat dan bereaksi secara tidak tepat dalam berbagai hal.

Kriteria kedua, citra diri dilahat oleh orang lain

“Teman-teman memandang saya sebagai orang yang temperamental”

“Ibu menganggap saya lucu”

“Adi menganggap  saya tekun” dll.

Setiap individu juga mengembangkan sikap-sikap menurut bagaimana orang lain memandang/menganggap dirinya, lalau dia cenderung berbuat sesuai dengan anggapan-anggapan yang dipersepsi atau diterima oleh dirinya.

kriteria ketiga, citra diri berdasarkan idaman (idola)

“Saya seperti penyanyi yang baik”

“Saya sepertinya akan menjadi presiden”

“Saya pantasnya menjadi manager”

Diri idaman adalah penting dalam penentuan cita-cita hidup. Tentu saja tujuan yang telah jauh sukar tidak mungkin tercapai merupakan citra diri yang tidak sehat.
Citra diri adalah gambaran tentang siapakah diri kita menurut pendapat kita sendiri. Mungkin citra diri ini tidak sama dengan kenyataan yang terjadi, tetapi kita meyakininya. Citra diri ini membentuk ‘ kepribadian ‘ kita bagaimana kita berlaku, penampilan, mengambil keputusan, termasuk menghargai kondisi tubuh.

Kepribadian kita dibentuk oleh 2 komponen besar yaitu a) Citra-diri dan b) Watak seseorang. Inti dari ‘ kepribadian ‘ ini adalah citra diri itu karena ‘ watak ‘ kita dipengaruhi oleh citra diri itu sendiri.

Kita bisa menilai diri kita tergantung pada beberapa aspek yaitu aspek tubuh dan aspek psychologi. Sebagai contoh ; orang yang berkelahiran normal akan mempunyai citra diri yang positif, sedangkan orang yang cacat akan memiliki citra diri yang negatif. Itu dtinjau dari aspek pisik. Ditinjau dari aspek psychologis ; orang lahir dari keluarga kaya akan memiliki citra diri positif, sedangkan orang yang kelahiran dari keluarga miskin mempunyai citra diri negatif. Contoh ini bisa dikembangkan tetapi berdasarkan pembagian aspek diatas. Watak adalah kualitas perilaku atau reaksi dari setiap persoalan termasuk cara menghadapi dan menyelesaikan persoalan tersebut. Jadi kedua komponen besar diatas membentuk kepribadian kita dalam kehidupan sehari-hari.


Citra diri dapat digolongkan kepada 2 golongan besar yaitu citra diri positif dan citra diri negatif. Citra diri positif akan mempunyai watak atau sikap percaya diri yang tinggi, menghargai diri sendiri, dan dapat menerima diri seperti apa adanya. Disamping itu orang ini pula memiliki watak yang baik dalam pergaulan sosial, mengembangkan potensi diri secara seoptimal mungkin. Bagi orang yang mempunyai citra diri negatif, mempunyai watak atau sikap yang rendah diri, sombong, pemalu, peragu, pergaulannya terhambat.

Apakah kita bisa merubah citra diri itu ?

Seperti diuraikan dimuka bahwa citra diri itu menunjukan kepribadian kita yang sebenarnya yang dilihat oleh orang lain, bukan berdasarkan penilaian kita sendiri. Walaupun penilaian ini secara subyektif, tanpa mempertimbangkan kenyataan yang ada maka hal itu dapat dirubah. Penilaian kita dilakukan atas dasar ingatan dan pengalaman yang lalu, sehingga secara tidak sadar tercermin keluar dari diri kita. Jadi penilaian atas citra diri ini hanya berdasarkan perasaan kita sendiri saja, pada hal sesungguhnya lain dari itu. Oleh karena itu sulit diidentifikasi untuk melakukan perubahan, apa lagi hanya merupakan reaksi emosional belaka. Perlu dibuat daftar hal-hal positif pada diri kita dan daftar hal-hal negatif yang kita miliki. Secara sadar dan jujur mengakui kekurangan maupun kelemahan kita, sehingga tepat mengambil solusinya. Kita menilai diri kita secara seobyektif mungkin bukan lagi berdasarkan perasaan kita. Fakta menunjukan sebenarnya banyak hal-hal yang positif terlewatkan begitu saja tanpa dapat memanfaatkan secara optimal. Disamping itu perlu dipertimbangkan, apa yang dikatakan orang lain termasuk keluarga terhadap diri kita. Hati-hatilah meminta penilaian orang lain karena ada yang mempunyai motivasi tertentu sehingga menyanjung atau membesar-besarkan ( ABS ). Ingatlah penilaian terakhir adalah keputusan kita sendiri, karena kitalah yang akan melakukannya ( Obyektif ).


Banyak orang tidak sadar atas citra diri ini bermanfaat dalam pergaulan sosial sehari-hari karena merupakan kepribadian kita yang sebenarnya. Tetapi ada pula orang yang menilai diri secara berlebihan sehingga kelihatan seperti orang sombong, angkuh atau merasa pintar pada hal sebaliknya. Cara penilaian diatas dapat menemukan kepribadian kita secara obyektif walaupun menurut perasaan kita tidak sesuai atau berbeda dengannya. Dengan kepribadian yang baik kita mempunyai karakter yang pasti dan berguna dalam kehidupan sehari-hari. Orang lain akan cepat mengetahui sifat maupun keadaan kita sehingga mudah ditebak oleh orang lain. Orang demikian dikatakan mempunyai prinsip hidup atau karakter yang kuat sehingga bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Self-Image (Citra Diri)

Citra diri merupakan salah satu unsur penting untuk menunjukan siapa diri kita sebenarnya. Ia juga merupakan konsep diri tentang individu (...